FIKIH SEKSUAL

Sehat dan Nikmat Bercinta Sesuai Syariat

buku_fiqh-sesksualKarya : Majdi Muhammad & Aziz Ahmad al-Aththar

Harga : Rp 32.900,-

Penerbit : Zaman

Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang suami yang memandang istrinya dan istrinya pun memandangnya (dengan syahwat), maka Allah akan memandang dua insan tersebut dengan pandangan rahmat. Dan jika suami itu memegang telapak tangan istrinya dengan maksud mencumbunya atau menjimaknya, maka dosa-dosa kedua insan itu akan berjatuhan dari sela-sela jemarinya.”  (HR Maisarah bin Ali dan Imam Rafi’i dari Abu Said al-Khudri).
“Dalam berjimak terdapat puncak kenikmatan, puncak kasih sayang terhadap kekasih tercinta, pahala, sedekah, kesenangan jiwa, hilangnya pikiran-pikiran kotor, pudarnya ketegangan, badan terasa ringan dan bertambah sehat dan bisa melampiaskan cumbuan. Jika jimak itu sengaja dilakukan untuk kebaikan, melampiaskan kasih sayang, kerinduan, kesenangan dan mengharapkan pahala maka itulah kenikmatan yang tidak bisa ditandingi kenikmatan apa pun. Terlebih lagi jika persetubuhan itu dilakukan hingga mencapai puncak orgasme.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah).

Selain demi melanjutkan keturunan (prokreasi), berhubungan seksual juga sumber kesenangan (re-kreasi).*

Lebih dari itu, agama memandang aktivitas seks bagi suami istri sebagai ibadah. Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam hubungan intim yang kamu lakukan di antara kamu ada sedekah.” Para sahabat heran, “Wahai Rasul, ketika salah seorang di antara kami memuaskan gairah seksualnya, apakah ia akan mendapat pahala untuk itu?” “Tidakkah kamu berpikir bahwa jika ia melakukannya secara tidak sah ia berdosa? Dengan demikian, jika ia melakukannya secara sah, ia mendapat pahala,” jawab beliau (HR Muslim).

Bahkan—dalam hadis lain—ketika seorang suami memandang istrinya atau sebaliknya dengan penuh syahwat untuk bercumbu atau berjimak, Allah memandang mereka dengan pandangan rahmat. Pastinya, hadis ini hanya berarti jika perbuatan seksual dilakukan jauh di atas hubungan fisik semata. Maka, muslim yang baik perlu memahami tuntunan Islam mengenai seks  agar perilaku dan kebutuhan seksnya mengantarkan pada kenikmatan, kesenangan, kesehatan, serta keindahan lahir dan batin—mempunyai nilai di hadapan Allah.
——————————
* berarti juga penciptaan kembali, karena seks bukan bebas nilai, melainkan modus penciptaan ilahiah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: