Kisah Hidup Ali Ibn Abu Thalib

buku_aliKarya : Dr. Musthafa Murad

Harga : Rp 59.900,-

Penerbit : Zaman

Siapa yang tak mengakui kebesaran, kemuliaan, dan kedekatan hubungan Ali dengan Rasulullah? Dialah wajah yang dimuliakan Allah karena sepanjang hidupnya tak pernah menyembah berhala, karena sejak kecil ia telah menjadi fida (tebusan Nabi) dan menyerahkan jiwa raganya demi keagungan Islam.

Dialah pintu gerbang menuju kota ilmu. Dialah suami seorang pemimpin wanita ahli syurga, ayah dua cucu terkasih bola mata Nabi. Kemuliaanya bukan karena penaklukan wilayah-wilayah baru negeri Islam, melainkan karena ia telah menyelamatkan umat dari kebinasaan. Keberhasilannya bukan karena ia mengislamkan banyak kafir dan mendapatkan banyak ganimah, melainkan karena telah menjaga tunas Islam agar bisa terus tumbuh dan berkembang.

Siapakah yang mau menjadi pemimpin di tengah situasi penuh konflik dan perpecahan? Siapakah yang berani tampil di barisan paling depan ketika orang-orang saling berteriak sambil mengacungkan senjata? Siapakah yang mau mengorbankan nama baik dan kemuliaan demi mencegah kebinasaan umat? Siapakah orang yang tetap menjalani kehidupan dengan penuh keyakinan dan kemuliaan, sedangkan ia telah divonis akan mati terbunuh?

Dibutuhkan kebijaksanaan, kelmbutan, sekaligus ketegasan sikap untuk menghadapi gejolak sosial yang sangat dahsyat. Di ujung hayatnya, Ali harus mengorbankan jiwa, kehormatan, dan seluruh energi untuk mengemban amanat umat, ketika semua pemimpin menepi dan enggan. Ia jalankan kekhalifahan dan kepemimpinan dengan penuh percaya diri, kemuliaan, dan kehormatan meskipun ia meyakini kata-kata Nabi bahwa ia akan mati terbunuh.

Saat orang-orang datang menekannya agar siap di bai’at, Ali berkata, ”Tinggalkanlah aku, carilah orang selainku, karena kita menghadapi perkara yang begitu rumit dan banyak warna. Tidak ada hati yang mampu menahannya dan tidak ada akal yang mampu mencernanya.” Namun demi keutuhan dan kelangsungan Islam, Ali akhirnya mau mengambil segala resiko menjadi pemimpin di tengah situasi yang sangat tidak stabil itu, ketika umat dilanda perpecahan, saat mereka ditimpa kelemahan dan keengganan berjuang di jalan Allah.

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: