Gila Dunia

Ibarat dua orang budak yang dimiliki seorang raja.

Salah satunya sibuk dengan perintah-perintah tuannya untuk menjalankannya. Ia tidak melirik pada bagusnya pakaian, enaknya makanan. Perhatiannya hanya tertuju pada pengabdian kepada tuannya. Sehingga dia tidak perduli lagi terhadap jatah dirinya dan kebutuhan-kebutuhannya, kecuali sekadar yang di ridhai tuannya.

Adapun hamba yang lainnya, setiap kali diperintah tuannya ia malah sibuk dengan urusannya sendiri, ia mencuci pakaian dan mempercantiknya, mengurusi kendaraan dan memperbaiki seragamnya, memasak makanan untuknya.

Maka hamba yang pertama lebih mungkin diterima oleh tuannya ketimbang hamba kedua yang lalai dari pengabdian. Padahal tuan membeli hamba untuk mengabdi kepadanya, bukan untuk dirinya. Karena itu, perumpamaannya adalah seperti orang shaleh yang tidak tampak kecuali hanya sibuk memenuhi hak-hak Tuhannya. Dan sibuk menjalankan perintah-Nya hingga tidak mencintai dirinya dan kebutuhan-kebutuhannya. Jika sudah demikian, Allah akan memenuhi segala kebutuhannya. Allah Ta’ala akan memuliakannya dengan pemberiannya yang banyak karena ketawakalannya yang sejati, dan ketenggelamannya dalam berkhidmat kepada-Nya dan keikhlasannya dalam ketaatan.

Allah berfirman: “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Al-Thalaq [65]: 3).

Sedangkan orang yang tekun mencari harta dan lupa akan kehidupan akhirat tidak tampak kecuali ia hanya sedang mencari dunia dan mencari segala pemuasan hawa nafsunya.

Dari Anas r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda;  “Barang siapa akhirat menjadi cita-citanya maka Allah akan memberikan rasa kecukupan dalam hatinya, menghimpun segala urusannya, mendatangkan dunia kepadanya sedangkan ia enggan. Dan barang siapa dunia menjadi keinginannya, maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya, dan mencerai-beraikan segala urusannya. Dan Dia tidak akan mendatangkan dunia kepadanya kecuali sebatas yang diusahakannya. Maka baik di pagi hari maupun di sore hari, ia Fakir, dan tidaklah seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah kecuali Allah akan mengarahkan hati kaum mukminin untuk mencintai dan menyayanginya. Dan Allah beginya untuk segala kebaikan lebih cepat kepadanya. (HR. Tirmidzi)

Diambil dari Buku “Menjaga Kesucian Kalbu” Karya Ibn Athaillah al-Sakandari (Penerbit Rosdakarya, 2003; Bab 37 hal 217, ISBN: 979-692-280-0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: