Rakus Harta

Ketahuilah, jika engkau memperoleh harta tetapi engkau tidak bersyukur dan tidak berbuat amal akhirat, maka harta itu sebenarnya adalah musibah yang ditimpakan kepadamu. Rasulullah SAW bersabda: “Sedikitnya dunia bisa melupakan jalan akhirat. Lalu bagaimanakah keadaan engkau jika memiliki banyak harta?”

Maka janganlah engkau seperti para pemuja harta yang akan diceraikan harta (pada waktu mati). Tetapi jadilah orang yang menceraikan harta sebelum diceraikannya. Jika engkau mengutamakan dunia di atas akhirat, maka perumpamaanmu adalah seperti orang yang memiliki dua istri. Salah seorang di antaranya lemah dan khianat, sementara yang lain cantik jelita dan setia. Nah, jika engkau lebih mengutamakan istri yang jelek yang khianat maka sungguh engkau dungu. Istri lemah itu adalah dunia, sedangkan istri cantik adalah akhirat.

Sebab dunia adalah seperti istri lemah dan tua yang mengidap penyakit lepra dan kusta, tetapi ia menutupi penyakitnya dengan baju sutera. Maka seorang mukmin tentu akan membencinya karena ia tahu yang sebenarnya.

Ketahuilah, tidak ada orang yang diawasi sir (relung kesadaran paling dalam)-nya kecuali orang jujur. Lalu bagaimanakah engkau yang diberi minum dan makan, pakaian dan perhiasan, atau apapun dari cinta dunia? Barangsiapa mencintai dunia maka ia telah mengkhianati amanah, dan barangsiapa mengkhianati amanah maka Allah tidak akan memperhatikan sir-nya. Oleh karena itu, gunakanlah dunia untuk mencapai akhirat. Perbanyaklah zikir hingga cahaya dating kepadamu. Sebab perumpamaan dunia disisimu adalah seperti orang yang pergi ke kampong kecil untuk bekerja dan menimbun makanan pokok. Maka ia adalah orang yang cerdas karena ia telah melakukan perbuatan yang akan bermanfaat bagi dirinya. Begitu juga orang yang mengerjakan amal shaleh di dunia ini. Adapun engkau malah telah menimbun kehidupan syahwat, kalajengking maksiat sehingga bias membunuhmu. Maka, jadilah engkau saudaraku orang yang menimbun akhirat dan berpaling dari dunia. Dan waspadalah terhadap serangan dan penghianatannya terhadap pemiliknya.

Sementara itu, perumpamaan orang yang disibukkan dengan harta sehingga lupa beribadah kepada Allah adalah seperti hamba yang diutus tuannya ke negeri asing untuk memesankan baju baginya. Maka, budak itupun memasuki negeri itu, lalu ia berkata: di mana aku tinggal, dan dengan siapa aku menikah?. Ia disibukkan dengan urusannya sendiri dan perhatiannya terganggu untuk mengurusi perhatian tuannya. Maka si tuan pun memanggil kembali dan ia akhirnya tahu keadaan budaknya. Dia (budak) sama sekali belum mempersiapkan urusannya sedikitpun. Akibatnya, tuannya pun marah dan memecatnya. Ia tidak ingin lagi bersapa dengannya, karena budak itu telah disibukkan dengan urusannya sendiri dan melupakan hak tuannya.

Begitu juga engkau wahai mukmin. Allah telah mengeluarkan engkau ke dunia ini dan memerintahkanmu untuk berkhidmat kepada-Nya. Dia telah mengurusi urusan engkau dengan karunia-karunia-Nya kepadamu. Karena itu, jika engkau disibukkan dengan urusanmu sendiri di negeri ini sehingga melupakan hak Tuhanmu, maka engkau telah sesat. Engkau telah menempuh jalan yang membinasakanmu sendiri.

Perumpamaan orang di dunia ini adalah seperti budak yang disuruh tuannya. Pergilah ke negeri fulan dan pastikan urusanmu supaya engkau pergi lagi ke daerah lain. Bersiap-siaplah engkau. Jika tuan itu telah mengizinkannya pergi, maka sudah dimaklumi bahwa ia telah membolehkannya untuk makan supaya badannya sehat dan bisa mempersiapkan perbekalan. Begitulah seorang hamba bersama Allah yang diciptakan-Nya di dunia ini. Allah memerintahkannya untuk mengambil bekal akhirat. Allah berfirman: “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)

Maka sudah dimaklumi bahwa jika ia diperintahkan untuk mempersiapkan bekal akhirat, maka Allah pun telah membolehkannya untuk memakai dunia, sejauh bisa digunakan untuk bekal akhiratnya. Ketahuilah, hargamu adalah apa yang telah menyibukkan hati dengan dunia maka engkau tidak berharga. Karena dunia itu seperti bangakai yang tidak ada harganya. Dan jika engkau menyibukkan diri untuk akhirat, maka engkau akan bahagia, engkau termasuk yang bercita-cita tinggi.

Diambil dari Buku “Menjaga Kesucian Kalbu” Karya Ibn Athaillah al-Sakandari (Penerbit Rosdakarya, 2003; hal 213, ISBN: 979-692-280-0)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: